Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal mengungkapkan, Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) telah menerima 900 lebih laporan kecurangan Ujian Nasional (UN) tingkat SMA dan SMP.Selasa, 06 April 2010
900 kecurangan ditemukan dalam UN....!!!!
Author: Ardhi Sukses
| Posted at: 22.45 |
Filed Under:
Pendidikan
Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal mengungkapkan, Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) telah menerima 900 lebih laporan kecurangan Ujian Nasional (UN) tingkat SMA dan SMP.Jumat, 02 April 2010
Peran guru dan Internet
Author: Ardhi Sukses
| Posted at: 01.33 |
Filed Under:
Pendidikan,
Pengetahuan
Meski semua materi sudah terintegrasi dalam sistem pembelajaran digital tersebut, peran guru tetap menjadi seorang pendidik.
Karena semua materi sudah terintegrasi dalam sistem pembelajaran digital tersebut, ujar Yandi Rusyandi dari Sony Sugema College Digital Learning System kepada Kompas.com, terkait persiapan menerapkan pembelajaran secara digital melalui pemanfaatan teknologi di SMA Alfa Centauri, Bandung, Jawa Barat, Rabu (17/2/2010).
Baik software maupun hardware, online maupun offline, kata Yandi, pembelajaran tersebut dikemas secara apik dan interaktif sebagai suatu terobosan baru dalam teknologi pembelajaran yang diterapkan di kalangan anak didik. Selain itu, konsep paperless ini merupakan langkah nyata untuk menyukseskan kampanye Pemanasan Global dengan mengurangi penggunaan bahan kertas dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM), baik itu penggunaan buku pegangan, buku tulis, hingga lembaran-lembaran tugas dan evaluasi siswa.
Sistem ini juga akan mendorong siswa dalam hal kemandirian belajar dan pendalaman materi bahan ajar, karena mereka dapat belajar kapan dan di mana saja baik secara offline maupun online, ujarnya.
Yandi menambahkan, sistem pembelajaran digital ini dapat mengintegrasikan semua materi pelajaran berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dalam suatu software. Hal tersebut memungkinkan siswa dapat menyelesaikan seluruh SKL kurang dari tiga tahun.
Dan evaluasi pembelajarannya juga bisa dilakukan secara otomatis melalui proses digital, sehingga tidak perlu pengkoreksian secara manual melalui kertas. Hasil evaluasi yang diperoleh pun akan lebih cepat, akurat, dan obyektif, tambahnya.
Wow,..., 1 Trilyun untuk desa...
Author: Ardhi Sukses
| Posted at: 01.17 |
Filed Under:
Pendidikan,
Teknologi
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) mengalokasikan anggaran sebesar Rp1 triliun untuk pembangunan fasilitas telekomunikasi pedesaan.Pembangunan fasilitas telekomunikasi pedesaan itu merupakan bagian dari program USO (Universal Service Obligation) yang mencakup 31.824 desa di Indonesia, kata Staf Ahli Menteri bidang Ekonomi dan Kemitraan Kemkominfo Aizirman Djusan pada Rapat Koordinasi Bidang Komunikasi dan Informatika Wilayah Timur, di Mataram, Senin (15/3).
Ia mengatakan program USO merupakan bagian dari pelaksanaan sasaran pembangunan prioritas khususnya untuk program yang diimplementasikan di daerah perbatasan dan terpencil. Dengan adanya pembangunan fasilitas telekomunikasi pedesaan itu diharapkan setelah tahun 2010 seluruh desa di Indonesia sudah terlayani jaringan telekomunikasi atau disebut dengan istilah desa berdering.
Program telekomunikasi pedesaan itu juga mencakup desa-desa di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) yang akan terus dikembangkan dari desa berdering menjadi desa pintar yakni adanya akses internet di desa tersebut. Desa pintar lebih tinggi statusnya dari desa berdering karena sudah bisa mengakses dunia dari kawasan pedesaan, ujarnya.
Selain itu, kata Djusan, Kemkominfo juga membuat program pembangunan dan penguatan media center di pedesaan, daerah perbatasan dan daerah terpencil serta rawan konflik. Menurutnya NTB bukan daerah perbatasan tetapi dapat dikategorikan daerah konflik pada lokasi (desa) tertentu sehingga juga berhak mendapat bantuan penguatan media center.
Djusan juga menginformasikan bahwa Kemkominfo akan menerapkan program pembangunan dan pengembangan kelompok informasi masyarakat berbasis teknologi informasi di pedesaan. Teknologi informasi itu dikenal dengan CAP/Mobile CAP, Global Partnership for Output Based Aid (BPOBA), Warmasip dan rumah pintar.
Kemkominfo juga akan membangun ITTS (Improvement Television Transmitting Stations) yang diadopsi dari Spanyol, dan program EWS (Early Warning System) yang dipelajari dari Korea. ITTS untuk pengembangan siaran televisi dan EWS untuk kepentingan pencegahan dampak bencana dan tsunami karena ada peringatan dini, ujarnya. (Ant/OL-06)
Sumber : beritapendidikan.com
Rabu, 17 Maret 2010
Kenapa Harus Kuliah Akuntansi..???
Author: Ardhi Sukses
| Posted at: 20.17 |
Filed Under:
Pribadi
Aq da cerita yang d copas dari blog temen sekelas..Gooo...go.oo..
Cerita ini berawal waktu kita pulang kulia hari sabtu (07/11/09).
hari ini selesai kuliah, kami (yanti, anne, aka, ika) gag langsung pulang.kami duduk2 dulu di kampus. seperti biasa tempat favorit kita nongkrong itu adalah lorong C.
siang itu (11.30) qta gag hanya bengong2 aja..tapi juga curhat2an, ngmgin tugas, ledek2an ampe ngmngin ttg rasanya kuliah di JURUSAN AKUNTANSI ini..
alhasil...semua nya dikeluarin..dari cita2 jaman dulu pengen jadi apa, sampe bakat yang terpendam, sape akhirnyah nyasar ke AKUNTANSI..
huuuuffffttttt...APA KITA SALAH MASUK JURUSAN?! mmm... itu dia pertanyaan nya..
secara cita2 kita itu:
- ELMAYANTI ARFIE a.k.a YANTI
*pengen banget masuk KEDOKTERAN, KOMUNIKASI, PSIKOLOGI dan DESAIN GRAFIS.. karena ngebet masuk FK ampe rela nganggur setaun untuk nyoba lagi masuk FK taun depan nya. padahal nti uda lulus di FMIPA UNAND, TEK.ELEKTRO POLTEK UNAND, dan FH UNAND. tapiii... demi masuk FK taon dpn nya gag diambil tu semua kesempatan.
alhasil: taun depan nyah, FK ttp gag mihak ama nti. jadinya ngambil AKUNTANSI karena prospek kerjanya OK. InsyaALLAH. AMIN.
*pengen kerja di stasiun tipi ex: TRANS TV. pengen jadi Tim Creative, PR. kenapa cth nya harus trans tv? karena seragam trans tv okeii. modis. jd pengen punya.:D pengen jadi potographer.
- ANNE MUSTIKA P a.k.a ANNE
*masuk IPDN, dan pengen jadi potograper yang jago edit poto, punya camera SLR.
alhasil: IPDN gagal test dan akhirnyah ambil AKUNTANSI.
- AKROMI KHAIRINA a.k.a AKA
*pengen jadi DESAIN GRAFIS gara2 sering liat abangnya buat desain. dari SMP udah obsesi banget. pokoknya ntar klo udh gede harus kulia di desain grafis.
alhasil: ke AKUNTANSI jugaa..
- FRISKA SAFITRI a.k.a IKA
*pengen masuk HUKUM. suka aj ngeliat orang yg kerja di bidang hukum.
alhasil: AKUNTANSI kata nyah bagus.. jadi yuk mariii..
*pengen sekolah di sekolah seni. tpi gag ada masa depannya ktanya. jadii... hanya sebatas impian...
tapi skg.. kita udh ada di jurusan ini teman2.. DI AKUNTANSI.. maka SYUKURILAH !!!AKUNTANSI juga OK kok di banding cita2 kita dulu. sekarang kita hanya perlu bersyukur dan jalani ini dengan ikhlas.InsyaAllah hasil yg kita dapat pun akan baik dan bermanfaat untuk kita dan orang2 disekitar kita.AMIN. semua butuh proses. nikmati. maju terus.
kita gag harus kuliah ditempat SENI, DESAIN GRAFIS, PSIKOLOG dan POTOGRAPHER. karena itu semua udah bakat lahiriah.toh, buktinya kita kuliah di akuntansi ini aja bakat kita sering di pake n ngebantu tmen2 kita yang lain.klo ud bakat itu gag perlu sekolah. Otodidak jauh lebih memberikan pelajaran. BAKAT ya BAKAT.hehehehe.... ^^
intinya KITA GAG SALAH JURUSAN !!!!!GANBATTE !!!! sebentar lagi teman2... :))
Oleh : Elmayanti Arfie
Mahasiswa Berdemokrasi... Yakin..???
Author: Ardhi Sukses
| Posted at: 20.13 |
Filed Under:
Pendidikan
Pada keadaan iklim demokrasi yang kondusif, keberadaan demonstrasi adalah suatu hal yang wajar. Demonstrasi merupakan cara untuk mengetuk pintu cabang kekuasaan, baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, demi menyampaikan aspirasi yang terabaikan dan memperlihatkan kenyataan yang luput dari perhatian.
Di era informasi, seringkali demonstrasi yang terjadi diliput oleh media dan terlihat oleh publik dalam cakupan yang luas. Inilah yang berpotensi mereduksi tujuan demonstrasi menjadi sarana unjuk dukungan jumlah maupun unjuk kekuatan. Unjuk dukungan terlihat dari adanya demonstrasi yang dilakukan oleh dua kubu berbeda, masing-masing ingin memperlihatkan kepada publik bahwa kubu merekalah yang lebih mencerminkan aspirasi rakyat. Dari fakta masa lalu, dapat dilihat bahwa kubu-kubu berbeda tersebut berpotensi untuk bentrok satu sama lain.
Unjuk kekuatan terlihat dari aksi anarkistis dan kekerasan, yang seakan ingin menekankan bahwa demonstran tidak bisa diabaikan, atau akan ada konsekuensi perusakan. Hasil-hasil positif demonstrasi yang berhasil mewujudkan aspirasi publik menjadi bentuk nyata dapat kita lihat di masa lalu. Demonstrasi tahun 1965 dan 1998 merupakan dua contohnya.Ada kesamaan dalam keberhasilan kedua demonstrasi tersebut,yaitu mendapat dukungan publik. Walaupun ada ekses dari demonstrasi yang dilakukan, seperti fasilitas publik yang rusak, tetapi publik tetap mendukung karena merasa esensi demonstrasi yang dilakukan benar-benar aspirasi kolektif dari publik. Demonstrasi menjadi kehilangan dukungan publik ketika demonstrasi dianggap lebih banyak merugikan publik.
Pada dasarnya, demonstrasi sedikit banyak memunculkan gangguan terhadap kepentingan umum, sehingga persepsi umum publik terhadap demonstrasi adalah negatif kecuali jika esensi dari demonstrasi tersebut dapat dipahami publik sebagai perpanjangan tangan aspirasinya.
Dengan ditambah aksi kekerasan dan perusakan, makin banyak gangguan yang dirasakan publik sehingga demonstrasi yang dilakukan tidak lagi didukung publik. Untuk itu, yang perlu dilakukan para demonstran adalah memperhatikan kepentingan publik dengan sungguh-sungguh. Toleransi dan tenggang rasa terhadap pengguna ruang publik lainnya perlu dijunjung tinggi. Perlu disadari, demonstran juga merupakan fragmen dari publik, sehingga demonstran perlu memandang publik sebagai bagian dari dirinya.
Selain itu, yang perlu dikedepankan dalam demonstrasi bukanlah unjuk kekuatan, tetapi penyampaian aspirasi. Mungkin mengecewakan ketika aspirasi yang ingin disampaikan kepada cabang kekuasaan tidak tersampaikan, tetapi ketika aspirasi tersebut murni, dukungan publik akan datang. Sebaliknya, ketika berpaling kepada aksi anarkis, demonstran berada dalam posisi berlawanan dengan publik, dan akibatnya cercaan yang akan datang.
Oleh : Bella RifaldiMahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN)
Langganan:
Postingan (Atom)